Dalam acara Pengukuhan Guru Besar FKKMK UGM pada akhir bulan Februari lalu, Prof. Dr. Heru Pradjatmo MKes SpOG(K) berpidato tentang tes pemeriksaan penyakit kanker ovarium. Beliau menyampaikan bahwa tes protein darah (CA-25) penanda adanya tumor kanker, tidak sepenuhnya membantu. Sekitar 85% lebih wanita yang terkena kanker ovarium stadium lanjut mengalami kenaikan kadar protein darah yang cukup tinggi. Namun, hanya 50% wanita yang dari stadium awal kanker ovarium mendapat hal tersebut. Perkembangan di bidang kedokteran, seperti proyek genome manusia diharapkan mampu memberi kesempatan baru pengembangan alat diagnosa serta terapi gen yang lebih efektif, mengingat diagnosis awal kanker ovarium sangatlah sulit. Prof. Heru juga menjelaskan, letak ovarium yang tidak mudah dicapai, yaitu panggul bagian dalam diantara organ viscera yang secara fisik tidak bisa dilihat dengan mata, sehingga jika ingin mengambil sampelnya perlu dilakukan prosedur invasif. Kanker ini sering disebut Slient Lady Killer dan jarang ditemukan di stadium awal, sebab terkadang tidak muncul gejala serta letaknya yang tersembunyi. Jika timbul gejala pun, gejala itu hanya komplikasi, pertumbuhan dan perkembangan yang hadir pada stadium lanjut. Faktor lainnya adalah hormonal dan reproduksi yang beresiko pada proses berkembangnya penyakit kanker tersebut. Tetapi, berdasarkan hasil riset penelitian pola penyebaran penyakit ini di masyarakat, menunjukkan faktor lain lagi, yakni gaya hidup, genetik dan lingkungan bisa menurunkan / menaikkan resiko dari kanker ovarium ini, imbuhan Prof. Heru.
Ads 970x90
Sabtu, 09 Mei 2020
Hormon dan Reproduksi Bisa Jadi Faktor Berkembangnya Kanker Ovarium
Related Posts
Jonathan Sukanto
Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.
Comments